Preeklampsia – Gejala Penyakit, Penyebab & Cara Mengobati

Preeklampsia - Gejala Penyakit, Penyebab & Cara Mengobati

Salah satu penyakit yang harus diwaspadai ibu hamil adalah Preeklampsia. Meskipun namanya terdengar asing, namun sebenarnya penyakit ini umum diderita. Preeklampsia adalah kondisi dimana ibu hamil memiliki tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol. Pada kasus tertentu, tekanan darah bahkan bisa mencapai 140/90 mmHg.

Tidak semua ibu hamil mengalaminya, umumnya terjadi di usia kehamilan 20 minggu atau lebih. Ada pula yang sebelum 20 minggu, meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak. Dikatakan penyakit serius karena dapat menyebabkan komplikasi penyakit lainnya dan membahayakan ibu serta janin yang dikandungnya.

Preeklampsia yang dibiarkan dan tidak mendapatkan penanganan tepat dapat menyebabkan Eklampsia, yakni kondisi kejang yang diikuti dengan kehilangan kesadaran. Mengingat akan berbahaya nya penyakit ini, maka sebaiknya kita mengetahui berbagai hal penting yang terkait dengannya.

Gejala Penyakit Preeklampsia

Terlalu Stress
Image by Mooimom.id

Seperti halnya tekanan darah tinggi, Preeklampsia dapat muncul tanpa gejala apapun. Awalnya tekanan darah naik secara bertahap sehingga penderita tidak merasakan gangguan apapun. Dalam beberapa kasus, ada pula yang menunjukkan gejala yang harus diwaspadai.

1. Nyeri Kepala

Salah satu gejala Preeklampsia yang sering terjadi adalah nyeri pada bagian kepala. Sebagian ibu hamil menganggap hal ini sebagai gangguan kesehatan biasa. Namun jika sering terjadi dengan intensitas tinggi, ada baiknya jika anda mengecek tekanan darah saat itu. Penyebab nyeri kepala sendiri cukup banyak, seperti kurang tidur atau kelelahan.

2. Gangguan Penglihatan

Apabila sebelumnya penglihatan anda normal, namun berubah setelah memasuki usia kehamilan diatas 20 minggu, sebaiknya berhati-hati. Pasalnya, gangguan penglihatan termasuk salah satu gejala yang sering muncul pada penyakit Preeklampsia. Gangguan ini pada umumnya diakibatkan oleh tekanan darah yang tidak stabil.

3. Nyeri Perut

Wajar saja jika ibu hamil mengalami nyeri perut pada kondisi tertentu, apalagi jika usia kehamilan memasuki trimester ketiga. Akan tetapi jika nyeri yang dirasakan sering muncul pada bagian kanan atas, mungkin bukan hal yang biasa. Meskipun bisa jadi karena penyebab lain, seperti otot yang tertarik atau gangguan pencernaan, alangkah baiknya jika anda konsultasi dengan dokter atau bidan jika terjadi secara berkala.

BACA:  10 Penyebab Hamil Diluar Kandungan, Tanda & Gejalanya

4. Mual dan Muntah

Gejala Preeklampsia sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kondisi ibu hamil pada umumnya. Sebagai contoh adalah mual dan muntah yang pasti dialami setiap ibu dengan kondisi hamil. Namun kondisi tersebut biasanya hanya terjadi ada usia kehamilan muda atau trimester pertama. Jika terjadi di usia kehamilan tua, mungkin ada gangguan lain yang perlu diwaspadai.

5. Penurunan Produksi Urine

Penurunan produksi urine bukan hal yang biasa bagi ibu hamil. Kondisi normalnya justru sebaliknya, ibu hamil lebih sering buang air kecil dengan volume tinggi. Semakin tua usia kehamilan, ibu hamil akan semakin sering buang air kecil. Apabila selama kehamilan ternyata produksi urine anda berkurang, bisa jadi hal itu termasuk gejala Preeklampsia.

6. Penurunan Jumlah Trombosit

Setiap gejala yang disebutkan diatas masih sebatas perkiraan, jadi tidak mutlak bahwa anda saat itu terserang penyakit Preeklampsia. Untuk lebih jelasnya, biasanya dokter menyarankan pemeriksaan darah. Apabila dalam cek darah tersebut didapati jumlah trombosit yang menurun, risiko terjadinya penyakit pada kehamilan ini lebih besar terjadi.

7. Sesak Napas

Jarang ada tekanan darah tinggi yang menyebabkan sesak napas pada penderitanya. Namun untuk kasus kali ini hal itu mungkin saja terjadi. Pasalnya, paru-paru pada kondisi ibu hamil lebih terdorong dan terdesak oleh janin yang terus tumbuh berkembang. Apabila sesak napas hanya terjadi beberapa saat, sebaiknya tidak perlu khawatir.

Penyebab Gangguan Preeklampsia Pada Ibu Hamil

Penyebab Gangguan Preeklampsia Pada Ibu Hamil
Image by Alodokter.com

Hingga saat ini, penyebab Preeklampsia masih belum diketahui secara pasti. Anggapan yang paling mendekati adalah menurunnya fungsi plasenta yang menyebabkan pembuluh darah menyempit. Meski demikian, ada sejumlah faktor yang harus diketahui dan menjadi risiko terjadinya penyebab gangguan penyakit pada ibu hamil ini!

1. Memiliki Riwayat Hipertensi Kronik

Penyebab atau faktor yang paling memungkinkan adalah ibu hamil memiliki riwayat hipertensi kronik. Tidak mengherankan sebenarnya, karena hipertensi termasuk salah satu penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Jika dalam kondisi normal memiliki tekanan darah tinggi, apalagi jika dalam kondisi hamil bukan?

Pasalnya, ibu yang sedang hamil memiliki volume tubuh lebih besar sehingga membuat kerja jantung harus lebih keras untuk memompa aliran darah ke seluruh tubuh. Semakin tua usia kandungan, semakin besar pula volumenya. Apabila anda termasuk yang memiliki riwayat hipertensi, sebaiknya selalu konsultasi dengan dokter setiap saat.

2. Pernah Mengalami Preeklampsia pada Kehamilan Sebelumnya

Ibu hamil yang sebelumnya pernah mengalami gangguan Preeklampsia lebih rentan lagi mengalami gangguan yang sama. Hal ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan masalah kehamilan lainnya, seperti keguguran atau kelahiran bayi prematur. Ada baiknya jika anda konsultasi dengan ahli sebelum melaksanakan program hamil jika pernah memiliki riwayat ini.

3. Kehamilan Pertama

Kehamilan pertama juga merupakan salah satu penyebab Preeklampsia yang sering terjadi. Ibu yang baru pertama kali hamil biasanya mudah stress sehingga memicu aliran darah tidak normal, begitu juga dengan kinerja jantung. Pada umumnya, mereka takut dan cemas akan proses kelahiran nantinya.

BACA:  Manfaat Vitamin Blackmores untuk Ibu Hamil & Menyusui

4. Hamil di Usia Muda

Setiap orang mendambakan anggota keluarga baru yang menjadi pelengkap keluarga besar. Namun jika anda menikah di usia muda, ada baiknya menunggu usia mapan untuk merencanakan kehamilan, setidaknya melebihi usia 20 tahun. Usia muda dikatakan lebih rentan mengalami Preeklampsia karena dianggap kondisi tubuhnya masih belum siap.

5. Hamil di Usia Terlalu Tua

Selain usia yang terlalu muda, ibu hamil dengan usia yang terlalu tua pun rentan mengalami gangguan penyakit ini. Batas usia wanita hamil setidaknya tidak boleh melebihi 40 tahun, untuk menghindari gangguan penyakit selama periode kehamilan. Apabila memang terpaksa dan sudah terlanjur, pastikan anda rutin konsultasi dan periksa ke dokter.

6. Jarak Waktu dengan Kehamilan Sebelumnya Terlampau Jauh

Merencanakan jarak kehamilan sebelumnya dengan kehamilan berikutnya memang bagus. Sebagian orang merencanakan hal ini untuk membentuk keluarga kecil bahagia. Akan tetapi jangan terlalu jauh karena justru menjadi salah satu penyebab Preeklampsia. Wanita yang mengandung 10 tahun setelah kehamilan sebelumnya dikatakan rentan terserang penyakit ini.

7. Mengandung Bayi Kembar

Penyebab berikutnya adalah karena mengandung bayi kembar, bisa dua atau lebih. Cukup beralasan kenapa mengandung bayi kembar menjadi salah satu penyebabnya. Jika hamil satu bayi saja sudah cukup menaikkan tekanan darah untuk beberapa aktivitas tertentu, apalagi jika bayinya kembar.

8. Obesitas Saat Hamil

Obesitas bisa terjadi kepada siapa saja dan dalam kondisi apa pun jika tidak menjaga pola hidup sehat. Obesitas bukan hanya terjadi karena makanan berlebih, namun juga jenis makanan yang dikonsumsi. Meskipun dalam sehari tetap mengonsumsi makanan dalam jumlah yang sama, namun jika yang dikonsumsi mengandung banyak lemak tentunya lebih mudah gemuk.

Dalam kondisi normal, obesitas menjadi penyebab utama penyakit kronis lainnya, termasuk tekanan darah tinggi. Jika anda mengalami masalah kesehatan ini saat hamil, tentunya lebih mudah terserang penyakit Preeklampsia. Maka dari itu, selalu jaga asupan makanan selama hamil untuk menghindari timbulnya penyakit berbahaya.

9. Kehamilan dengan Bayi Tabung

Penyebab Preeklampsia selanjutnya adalah metode yang diambil untuk mendapatkan kehamilan. Artinya, kehamilan tersebut bukan dari proses alami, melainkan dengan bantuan metode tertentu. Beberapa metode yang dianggap rentan adalah bayi tabung dan inseminasi.

Cara Mengobati Preeklampsia

Cara Mengobati Preeklampsia
Image by Lifepack.id

Penting sekali mengetahui bagaimana cara pengobatan Preeklampsia supaya tidak terjadi kejang atau eklampsia. Sebenarnya penyakit ini bisa hilang dengan sendirinya setelah proses kelahiran. Namun selama kehamilan, biasanya dokter memberikan obat-obatan tertentu.

Obat Penurun Tekanan Darah

Penyakit Preeklampsia adalah kondisi lain dari darah tinggi, jadi wajar saja jika cara pengobatannya dengan memberikan obat penurun tekanan darah. Tidak semua yang mengalami kondisi ini mendapatkan obat tersebut, hanya mereka yang memiliki tekanan darah diatas 140/90 mmHg yang biasanya ditindaklanjuti dengan pemberian obat.

BACA:  6 Penyebab Kontraksi Palsu yang Penting Diketahui Ibu Hamil

Obat Kortikosteroid

Cara mengobati Preeklampsia berikutnya adalah memberikan obat kortikosteroid, yakni obat yang mengandung hormon steroid. Pada umumnya, dokter memberikan jenis obat ini hanya ketika pasien mengalami Preeklamsia berat. Fungsi lain dari obat kortikosteroid yaitu untuk mematangkan paru-paru janin.

Selain itu, obat ini juga efektif untuk menekan produksi zat tubuh yang mengakibatkan peradangan. Bagi ibu hamil, pembengkakan pada bagian adalah salah satu masalah yang paling sering dihadapi. Kortikosteroid pun dipercaya efektif menjaga sistem imun tubuh ibu hamil supaya tidak mudah terserang penyakit.

Obat MgSO4

MgSO4 atau magnesium sulfat hanya digunakan untuk cara mengobati Preeklampsia jika kondisinya sudah fatal. Ibu hamil dengan penyakit ini sangat rentan terjadi kejang yang mengakibatkan berbagai gangguan penyakit berat lainnya. Di sinilah peran MgSO4 yang digunakan untuk mencegah terjadinya kejang.

Perawatan Rumah Sakit

Apabila dengan metode pengobatan diatas masih belum memberikan efek baik pada ibu hamil, biasanya dokter akan merujuk pada perawatan rumah sakit. Cara pengobatan Preeklampsia ini juga langsung direkomendasikan jika kondisinya parah. Selama perawatan, dokter akan melakukan pengecekan secara berkala untuk mengetahui perkembangan pasien dan janin yang dikandungnya.

Tips Mencegah Preeklampsia

Tips Mencegah Preeklampsia
Image by Ruangmom.com

Secara umum, preeklampsia tidak dapat dihindari oleh sebagai ibu hamil, apalagi bagi mereka dengan faktor risiko yang disebutkan diatas. Namun bukan berarti tidak dapat dicegah, beberapa hal berikut tergolong efektif dan patut dicoba!

Rutin Kontrol Selama Kehamilan

Siapa pun tidak dapat memprediksi kapan terjadinya gangguan penyakit kehamilan ini. Oleh sebab itu, sebaiknya selalu rutin kontrol untuk mengetahui perkembangan kehamilan dan kondisi tubuh. Tidak harus ke rumah sakit dengan dokter, anda bisa rutin kontrol di bidan yang memiliki izin praktik.

Menerapkan Pola Hidup Sehat

Tips mencegah Preeklampsia berikutnya adalah dengan menerapkan pola hidup sehat. Setiap penyakit yang datang pada umumnya disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat. Dikarenakan anda sedang hamil, selalu perhatikan asupan makanan yang masuk. Perbanyak makan buah dan sayur yang diolah tanpa minyak untuk mengurangi kadar kolesterol.

Mengonsumsi Suplemen

Suplemen wajib untuk ibu hamil yang biasanya didapat dari dokter adalah yang mengandung asam folat. Untuk mencegah Preeklampsia sebenarnya masih kurang, anda perlu menambahkan suplemen lain yang mengandung vitamin atau mineral. Namun untuk kali ini, silahkan konsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Itulah berbagai hal penting yang harus diketahui mengenai salah satu gangguan kesehatan pada ibu hamil. Menjaga kesehatan lebih penting daripada nantinya harus mengobati. Namun jika anda tiba-tiba mengalami gangguan Preeklampsia, langkah yang paling tepat adalah pergi ke rumah sakit dan konsultasi dengan dokter.